> Kata sederhana Inisiatif, ini Kata Cakades Cimangenteng Terkait Tuduhan: Share for Money

Kata sederhana Inisiatif, ini Kata Cakades Cimangenteng Terkait Tuduhan: Share for Money

author

Suara peradilan news

Share Post

Suara Peradilan News.Com


Lebak, -Di Sinyalir – Terkait pemberitaan disalah satu media online yang ada di Kabupaten Lebak yang mempublish informasi bahwa salah satu calon kepala desa Cimangenteung Kecamatan Rangkasbitung membagi -bagikan uang kepada masyarakat, menuai berbagai tanggapan simpatik dari berbagai pihak secara beragam. Rabu 20 Oktober 2021.


Sebelumnya beredar di media sosial Group Whatsapp (WAG) Vidio calon Kades Cimangenteung nomor urut 2 Dedi S atau biasa akrab disapa Kudeng, membagikan sejumlah uang kepada pendukungnya yang ada di 6 (enam) RT yang ada di Desa tersebut.


Namun secara tegas kepada sejumlah LSM dan wartawan, Jaro Kudeng (Dedi) membantah dan mengklarisifikasi bahwa yang terekam dalam video berdurasi sekitar 2 menit itu adalah bentuk apresiasi dia terhadap para pendukungnya karena sudah berkunjung ke rumahnya dalam rangka kampanye dirinya selaku Cakades dalam perhelatan demokrasi di Desa Cimangenteung yang akan dilaksanakan serentak 24 Oktober 2021 mendatang.


“Terimakasih kepada rekan media dan LSM yang sudah berkenan berkunjung ke rumah saya, perlu saya luruskan kejadian kemarin saat kampanye dirumah saya isunya tebar tebar uang, menurut hemat saya yang namanya liwetan itu tidak bisa dikatagorikan tebar uang, karena menurut saya, liwetan itu saya jadikan untuk jembatan menjalin silaturahmi antar warga dalam demokrasi, bahkan saat saya masih menjabat juga sering saya lakukan seperti ini, nah kebetulan kemarin pas waktu jadwal kampanye saya, karena saya tidak mengadakan arak – arakan, ataupun pawai saya mengundang warga ke rumah dari 6 RT, kenapa saya tidak mengadakan arak – arakan atau pawai ? karena saya menjaga kondusifitas serta kerumunan yang luar biasa. Nah pulangnya warga dari 6 RT tersebut meminta uang untuk kegiatan Liwetan di kampungnya. Sebagai calon kepala Desa, ketika ada masyarakat meminta kalau memang ada, masa iya saya menolak? Kebetulan dikantong saya ada uang sedikit, ya sudah saya kasihkan jumlahnya Rp. 600 ribu per RT, padahal di Desa ini ada 21 RT yang saya kasih hanya 6 RT saja yang datang kerumah, itu murni buat ngeliwet atas permintaan warga dan yang ngambilnya perwakilan dari 6 RT. Itu mungkin yang dikatagorikan oleh kawan media tersebut sebagai tebar uang,” tutur Kudeng menjelaskan panjang Lebar.


Sementara itu Abah Nunung Tokoh masyarakat Kabupaten Lebak saat dimintai tanggapannya menjawab bahwa apa yang diberitakan oleh salah satu media tersebut terlalu tendensius.


“Menurut saya itu masih pada batasan kewajaran dan kalau ada calon kepala desa di kabupaten lebak ini mengatakan tidak pernah memberikan untuk liwetan itu bohong, saya kira itu sebagai penyemangat Tim, jangan munafik lah, lebih baik kita sama – sama menjaga kondusifitas dengan menjaga proses Pilkades di kabupaten Lebak agar hasilnya nanti berjalan dengan baik, adapun nantinya hasilnya, serahkan saja kepada masyarakat, untuk itu, mari kita sama sama dari semua unsur menjaga kondusifitas Pilkades serentak di Kabupaten Lebak,” ungkap Abah Nunung yang juga ketua Umum Ormas Jarum ini. 


Senada dikatakan Pemerhati Politik dan Sosial Kabupaten Lebak, Ade Irawan, mengungkapkan bahwa, gejala sosial seperti ini sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan oleh calon kepala Desa dimanapun. 


“Saya kira ini sesuatu yang lumrah, selaku putra daerah dengan adanya kontestasi Pilkades sudah tradisi bahwa pilkades ini diikuti oleh lebih dari satu orang Cakades, berbicara politik tidak lepas dari namanya konsekwensi logis politik, yakni biaya politik, apapun nama dan bentuknya biaya atau ongkos politik itu mutlak sifatnya, termasuk kopi, bensin, rokok, dan yang tadi di sebutkan liwetan merupakan cost politik atau biaya politik, jadi benar apa yang dikatakan tokoh masyarakat lebak tadi ketika ada yang mengatakan tidak menyebutkan adanya liwetan itu bohong besar, karena dalam tingkatan apapun pasti tidak terlepas dari biaya politik. Nah dalam hal ini kita harus bisa membedakan mana ongkos politik dan politik uang, politik uang adalah memberikan sesuatu entah berupa uang atau barang dengan mengimingi dan mengintimidasi yang besangkutan,” jelasnya. 


Terpisah, Bobi Hendra Abimayu salah satu calon kepala desa di Kecamatan Warung Gunung menilai apa yang dilakukan oleh rekannya di Kecamatan Rangkasbitung yang viral tengah membagikan uang kepada simpatisannya tersebut adalah sesuatu yang wajar. 


“Saya sendiri disini kang sampe habis bebek dan ayam saya untuk liwetan tiap malam, jadi wajar saja bila calon kepala desa member sedikit uang untuk sekedar liwetan mah, 600 ribu per orang mungkin besar tapi kalau se RT pak jadi paling kebeli ikan asin dan lalapan plus sambel, hahahaha…. Harapan saya ini jangan jadi persoalan serius karena semua lumrah saja dan bukan hanya di Rangkasbitung, saya juga berharap masyarakat cerdas dalam memilih karena ini bukan untuk waktu yang sebentar, untuk 6 tahun kedepan dan kemajuan Desa,” Sungguh manis buah durian hidangan untuk para tetamu tahniah sukses kami ucapkan bangunlah desa tetap maju, "pungkas Cakades Model rambut Plontos Abadi ini menutup perbincangan dengan media. (Red)